Bisikan Sang Mentari

manfaat-sinar-matahari-pagi-untuk-tubuh

Temaram cahaya di langit kelam, di sini, dari kejauhan menanti giliran menguarkan bulir kerinduan. Kudengar langkah kaki terseok menembus heningnya malam. Sekejap, hawa kesejukan menyentuh setiap urat syaraf yang kau basuhan.

Gerakan seluruh indera kau pasrahkan, demi menyambut akhir sepertiga malam. Sayup rintihan dalam pekik yang tertahan, tubuh pun bergetar seolah turut merasakan. Lama tersungkur dalam rangkaian bait doa, tulus tertutur dalam sujud panjang yang memilukan. Menangis, memohon, dan meratap berhiaskan harapan.  Continue reading “Bisikan Sang Mentari”

Advertisements

Janji Langit Biru

img_20170112_121558_658.jpg

 

Lihat!

Langit biru itu yang menjanjikan secercah asa

Dan berbisik, supaya aku tetap mengharapkannya

Namun,

Tampak awan berarak meninggalkan setitik harapan

Sementara aku,

Hanya berdiri dalam penantian panjang yang kadang melelahkan

Terbolak balik oleh keadaan yang menyesakkan

Nyaris menyerah dan kalah sebelum tiba waktunya

Padahal itulah sebagian ujian

Yang akan menempaku agar menjadi luar biasa

Lalu kebahagian hakiki kan aku dapatkan

Bila saja mau bersabar dan rela dengan apa saja yang dipilihkan-Nya.

Aku dan Cahaya

Kulihat cahaya kecil di kejauhan

Sejenak mataku terpicing menangkap kilaunya

Kucoba berjalan dalam gelapnya malam

Terus berjalan menelusuri kesunyian

Kulangkahkan kaki menuju pantulan sinarnya

Dalam hati terus bergumam

Akankah kutemukan sebuah harapan?

Disana, harapan yang mungkin saja bisa kugenggam

Namun, dari dekat cahaya itu tampak meredup

Mungkinkah semuanya hanya ilusi?

Jauh terlihat lalu kian menghilang

Tanpa bayang

Dan aku hanya mampu terdiam

Mengenang indahnya berkilauan

Lalu sirna ditelan kegelapan

Hilang

Kini semua telah hilang

Meski raga berada tepat di hadapan

Namun jiwa melayang entah kemana

Tak mampu lagi aku berharap

Karena semua telah hilang

Kemana lagi aku harus mencari

Separuh hati yang telah terlanjur pergi

Takkan mungkin semua utuh kembali

Kini hanya ada sisa kenangan

Dan mungkin setitik harapan

Yang juga mungkin akan hilang

Hilang dari pandangan

Jauh meninggalkan janji yang tak terpenuhi

Hilang dan tak akan kembali

Secercah Asa yang Sirna

Ada setitik asa yang masih dapat kujaga

Meski tak banyak peluang meraihnya

Bahkan, sangat kecil sekali

Tapi, tidak mustahil

Bukankah kita tidak boleh putus berharap?

Baiklah, kita tunggu saja

Karena menunggu adalah solusi terbaik

Menunggu dalam diam disertai ikhtiar dan doa

Kini, secercah asa itu telah sirna

Hilang tak berbekas

Mungkin, aku tak akan dapat meraihnya lagi

Karena secercah asa itu telah dirampas

Tak mampu aku mempertahankannya

Lalu, terdengar bisikan

Berdamailah dengan dirimu

Biarkan secercah asa itu sirna

Karena ada banyak asa lain yang tengah disiapkan

Untukmu, wahai jiwa yang tenang

 

Sebuah Penantian

Kutatap wajah teduh itu dengan seksama

Tak ada lagi binar bahagia terpancar di sana

Tak seperti biasanya, kau yang selalu ceria bercerita tentang segala rasa

Kini, diam seribu bahasa

Senyuman kaku hanya mengembang ala kadarnya

Hanya untuk membuatku tak banyak tanya

Aku tahu, kau sedang menyimpan lara

Tanpa mampu untuk kau membaginya

Baiklah, aku takkan memaksa

Kan kubiarkan kau dalam kesendirian

Menyepi sejenak tuk tenangkan hati

Tapi, jangan pernah  kau cemaskan

Aku masih di sini, menantimu dalam kesabaran

Semoga saja, penantian ini takkan sia-sia

Hingga berujung dengan akhir bahagia.

Rindu

Saat tak lagi menemukan hangatnya cinta

Sejenak aku terdiam tak bergeming

Tatap mata nanar seolah kehilangan separuh jiwa

Aku merasa diriku jauh, kini semakin jauh

Betapa kotornya diri ini, penuh dengan lumpur dosa

Jika saja Engkau buka aibku, mungkin akan berbau seperti penghuni comberan

Aku malu untuk menengadahkan kepalaku

Bahkan, hanya untuk mengangkat kedua tanganku

Saat menyadari betapa meruginya diri, atas maksiat dan lalai yang kulakukan

Aku seperti merasakan sengatan kalajengking

Panas yang membakar jiwa, mengalahkan segala rasa

Tubuhku lunglai meratapi diri yang hina, terkulai seperti daun tak terkena sinar matahari

Andai saja, galau ini bisa membawaku kembali ke pangkuan-Mu

Menikmati teduhnya hati, damainya jiwa, dan lapangnya dada

Aku rindu aku ingin kembali memohon ampunan-Mu

Rabbi, maafkanlah segala kesalahanku, segala dosaku

Aku kembali bersujud di ujung sajadahku dengan tetesan airmataku

Hanya mengharap Engkau ridho padaku