Aku dan Mentari

kindness

Saat kubuka pintu dan jendela, kau masuk menyelusup sebelum kupersilahkan.

Sinarmu yang terang membawa sejuta keberkahan di dalamnya.

Sesaat kurasakan hangatnya, membuatku harus segera berlepas dari penat dan rasa malas.

Aku yang selalu menantimu, seketika mencari arah hangat sinarmu yang memancar.

Ya, di sini aku berdiri menikmati pesonamu yang menyapaku pagi ini.

Kuhirup udara segar yang menyertai pancaranmu, aku serahkan diriku tuk sekedar mengharap kasihmu.Β 

Dalam diamku, aku bersyukur akan karunia yang telah Dia limpahkan hari ini.

Bersamamu, aku bahkan bisa melihat keindahan.

Menatap penuh harap, bahwa kau ada, nyata bukan fatamorgana.

Lama aku menikmati hadirmu, merasakan setiap sentuhan kehangatan.

Dalam balutan cinta yang tulus kau curahkan, untukku dan untuk siapa saja.

Namun, seringkali aku bersedih, saat kau hanya sesaat datang lalu pergi tanpa permisi.

Ingin kumencarimu, menggapai asa yang pernah kau tawarkan.

Tapi, harus kusadari, semua ada waktunya.

Tak bisa kupaksakan kau tetap di sini, meski aku menginginkannya.

Karena setiap titian takdir telah ditetapkan-Nya, begitupun denganmu.

Satu hal yang harus kuyakini, mensyukurimu adalah nikmat yang tak bisa kudustakan.

Terima kasih telah menghangatkanku pagi ini, bersinarlah selalu.

Dan biarkan aku bahagia menyambutmu, untuk kemudian kutebarkan kebahagiaan itu di sekelilingku.

Lalu mengucap syukur pada Rabb-ku dan juga Rabb-Mu yang telah mengizinkan kita bersama, meski hanya sesaat.

 

 

Advertisements

4 thoughts on “Aku dan Mentari

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s