Pengirim Rahasia

“Paket…paket…!” teriakan di luar sana seraya memukul-mukul kunci gembok yang terpasang di pintu pagar kayu rumahku.

Segera ku berlari menghampiri suara kurir yang sedang berdiri sambil membawa bungkusan berukuran kotak besar yang dibalut dengan lakban cokelat.

“Ada paket buat Pak Isna nih, Bu!” ujarnya, dengan mengintip kedatanganku dari balik pagar yang tinggi. Kurir ini sudah sering mengantarkan paket ke rumah, jadi kami sudah saling mengenal. Terkadang, kalau rumah lagi kosong, dia hapal harus menyimpan paket di mana. Aku menerima paket itu dengan senyum dan ucapan terima kasih seperti biasanya. Hmmm, berat banget ya! gumamku, rasa penasaran mulai menyergap dalam hati, biasanya kalau mau ada paket suamiku pasti bilang.

Setelah cek pengirimnya, sepertinya aku pernah mengenal nama ini. Kulihat lagi paket yang berisi dua buah kotak, satu kotak besar berukuran 30cm x 30cm dan satunya lagi lebih kecil ditumpuk di atasnya. Tampak dari luar kalau ini paket makanan, sebaiknya nggak perlu nunggu Mas Isna pulang untuk membukanya, pikirku dalam hati. Entahlah, perasaanku masih saja bertanya-tanya sambil menggunting lakban yang menutupi bungkusannya.

Oh, ya benar. Pempek Selamet dari Jambi. Paket yang sama, kuterima untuk kesekian kalinya. waktu itu Mas Isna bilang kiriman dari teman SMA nya, laki-laki. Aku sempat curiga, kenapa temannya rajin banget ngirim pempek, yang jelas adalah makanan kesukaan suamiku.

“Udahlah nggak perlu nanya gitu, namanya rezeki itu dinikmati bukan dicurigai!” sahutnya ketus, setiap kali aku menanyakan siapa teman yang dimaksud. Aneh memang, dia selalu menutupi siapa pengirimnya, bahkan hanya sekedar nama.

Tapi, kiriman kali ini ada yang lain. Mataku tertuju pada kertas pengirimnya dan mengingatkan pada sebuah nama, yang dulu sering menjadi bahan pertengkaran kami. Ya, nama pengirim paket ini Edwina, nama mantan suamiku yang batal dinikahinya. Sekejap darahku berdesir hebat, kurasakan getaran tanganku mulai dingin tak terkendali, dan perasaanku seperti diaduk-aduk nggak karuan. Aahh…keadaan yang sama, saat nama itu dulu mengganggu jiwa dan pikiranku.

Kenapa sekarang dia mencantumkan nama dan no telponnya ya, apa dia lupa atau malah sengaja? Sejak kapan mereka berhubungan lagi? Setahuku, Mas Isna pernah bertanya dan mencari Edwina di grup Whatsapp alumni SMA nya. Waktu itu, tak sengaja aku bisa membuka handphone yang selalu ketat dijaganya dan membaca percakapan mereka di grup itu.

Ternyata kecurigaanku terbukti sekarang. Jadi, selama ini suamiku membohongiku rupanya. Beribu tanya menyergap, tubuhku pun lemas, lalu kuhempaskan di atas sofa. Kurasakan sakit di kepala dan juga hati, tak terasa bulir hangat turun melintasi pipi. Aku pun tak berdaya membayangkan dia telah mengkhianatiku.

Advertisements

5 thoughts on “Pengirim Rahasia

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s