Menuju Bahtera Keikhlasan

menuju-bahter-ikhlas

Pernahkah merasa, bahwa hidup tak berpihak pada kita? Saat tak ada lagi tempat untuk bergantung. Tak ada lagi kekuatan yang bisa menahan tangguhnya hati. Semua kosong, hampa tak tersisa.

Deraian air mata mengalir deras membasahi setiap sujudku, seolah ia merasakan betapa sakitnya seluruh jiwa. Aaahh, mungkin hanya ini yang bisa dilakukan. Cara terbaik untuk mengadukan semua rasa, hanya pada sang Pencipta.

Bayangan kelam tentang sebuah pemandangan nyata yang menyesakan, terasa berat seolah alam semesta gelap tak tersingkap. Dan aku hanya mampu mengharap, secercah cahaya kan menyeruak dan menerangi kembali jiwa yang lara.

Duhai,sungguh  aku tak berdaya, berjalan mencari kepingan hati yang porak poranda. Tak jua kutemukan, seperti hilang, tak dapat dipersatukan sebagaimana keadaan semula. Dan aku pun terus berjalan, menyusuri liku kehidupan yang dihiasi nestapa.

Entah sampai kapan terus berjalan, karena langkahku nyaris tertahan. Tak sanggup lagi untuk melangkah, demi mencari sebuah harapan. Ya, harapan untukku menggenggam kembali kebahagiaan.

Aku hanya duduk terdiam, tak mampu lagi melihat sekitar. Pasrah dan kuputuskan untuk menyerah pada keadaan. Tatapan mata nanar, dan tak ada lagi arimata.

Hingga akhirnya kutemukan pesan cinta dariMu, sebuah hikmah terindah yang kini menyadarkanku. Bahwa sesungguhnya Engkau sangat menyayangiku, perjalanan panjang ini adalah sebuah proses untuk menjadikan aku kuat. Dan kini aku tahu, Engkau sedang mempersiapkanku menjadi seseorang yang mengerti arti hidup sebenarnya.

Tiga hal yang selalu meyakinkanku adalah kekuatan terbesar bagiku bisa mencapai titik ini. Sabar tiada batas, syukur yang tak terukur, dan tawakal yang menyertainya telah mengantarkanku pada sebuah tingkatan tertinggi, yaitu ihklas.

Ikhlas itu tidak terlihat wujudnya, tapi ia dapat dirasakan selaras dengan sikap yang ditentukan oleh keyakinan dan kesadaran yang tertanam di dalam hati.Yakin bahwa ketetapan Allah selalu baik, meski kadang tak sesuai dengan keinginan kita.

Dan kini, aku tengah berjalan menuju bahtera keikhlasan yang melapangakan dada dan menyejukan jiwa. Sebuah proses yang berhasil menjadikanku manusia bahagia.

*Cerita ini diambil dari berbagai kisah nyata yang berbeda. Semoga kita mampu melewati setiap episodenya dengan penuh kesabaran, hingga berujung keikhlasan. Semoga saja!

“Aku” adalah siapapun yang sedang berjuang menuju bahtera keikhlasan.

Salam Bahagia,

Santi Rosmala.

Advertisements

16 thoughts on “Menuju Bahtera Keikhlasan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s