Terbebas Dari Jeratan Kartu Kredit

Beberapa kali mendengar keluhan teman, tentang kartu kredit mereka yang bermasalah, seolah mengingatkanku dengan kejadian yang sama.

Ya, setahun lalu adalah hal yang membuatku tersiksa, setiap bulan dikejar tagihan kartu kredit yang macet, karena usaha suamiku yang sedang bermasalah.
Krang kring bunyi telpon yang masuk ke handphoneku, karena kelima kartu kredit itu semuanya atas namaku. Merasa diteror, membuatku tak mau mengangkat telpon dari nomor tanpa nama yang kukenal.

Pengalaman buruk itu membuat langkahku terasa sempit, hampir setiap saat diikuti melalui telpon dan SMS.
Setiap bulan menunggak semakin membuat tagihan membengkak, sampai berjalan kurang lebih 4 bulan lamanya, Kami tidak mampu menunaikan kewajiban membayarnya.

Stress? Β Iya.

terbebas dari jeratan kartu kredit

Saat itu, sahabatku menanyakan tentang masalah yang sedang kuhadapi. Dia bilang, dengan berbagi cerita mungkin akan sedikit membantu meringankannya, atau bahkan memberi solusi.

Kuceritakan bahwa Aku sedang dalam kesulitan ekonomi, terjebak jeratan kartu kredit yang nyaris membuatku tercekik dan tak bisa bernafas.

Rupanya Dia pernah mengalami hal yang sama, Dia mulai menenangkanku dan memberikan jalan keluar atas permasalahan ini.

Sejak saat itu, Aku jadi berani menerima telpon dari 4 Bank yang mengejarku setiap hari. Seperti mendapat energi positif, Aku bersikap tenang, menyambut suara disebrang sana yang masih lembut dan bisa diajak kerjasama.

Aku minta kebijakan untuk Reschedule, dan mereka menyambut niat baikku.

Sungguh, Aku ingin segera menyelesaikan semua kewajibanku dan berniat tidak ingin memiliki kartu kredit lagi. Aku berharap segera terbebas dari jeratan kartu kreditΒ yang melilitku, menikmati hidup sederhana tanpa riba adalah hal yang sangat indah.

Niat yang kuat itulah, disertai ikhtiar dan do’a kepada sang Maha Kaya, hingga akhirnya Kami harus memutuskan untuk menjual rumah, demi bisa membayar hutang dan untuk menutup kerugian dalam usaha.

 

Dua Bank Internasional, yang memberikan potongan hampir setengah dari total tagihan. Aku diharuskan membuat surat pernyataan, bahwa tidak mampu membayar keseluruhan tagihan, karena memiliki kewajiban atau cicilan ke Bank lain yang sama macetnya. Satu Bank aku bayarkan lunas, dan satu Bank lain, Aku minta untuk menyicilnya dan diberikan tempo 4x cicilan.

Dua kartu lagi, yaitu tipe silver dan gold, yang dikeluarkan oleh satu Bank berplat merah, yang membuat Kami sedikit geram, karena memiliki kebijakan dan prosedurnya yang menyulitkan. Kami hanya diberi potongan dengan nilai yang tidak sesuai dengan permohonan, relatif kecil dan sangat merugikan.

Satu kartu kredit lagi, dengan batas nilai tertinggi dari semua kartu. Bank milik “Si Anak Singkong” yang masih aman terkendali, bisa Kami tutup juga tanpa masalah.

Ah, nyesek kalau ingat masa itu..

Tapi Alhamdulillah, semua ada hikmahnya.

Kami bahagia bisa menunaikan kewajiban, dan yang terpenting bisa membersihkan nama baikku dari BI cheking yang sempat terpampang dalam daftar hitam, hiks.

Kini, setahun telah berlalu, tidak pernah terpikir olehku untuk kembali dalamΒ jeratan kartu kredit lagi. Kuanggap sebagai masa laluku, yang harus dijadikan pelajaran sangat berharga.

Semangat berjuang kawan!

Salam saya,

Santi Rosmala

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s